Postur APBN 2019 Masih Aman dan Manageable

Pemerintah Diharapkan Berhasil dalam Mengelola Keuangan Untuk Pertumbuhan Ekonomi yang Stabil dan Aman

Menjelang tahun 2019, pemerintah telah menyiapkan anggaran untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019 yaitu dengan mengeluarkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Indonesia (APBN 2019). Untuk dapat melaksanakan berbagai program pembangunan di tahun 2019 dalam ketidakpastian global, maka APBN yang sehat diperlukan agar pemerintah dapat melaksanakan seluruh aktifitas perekonomiannya secara aktif dan berkelanjutan. Indikator kesehatan APBN dapat dilhat pada rasio defisit APBN yang merupakan terendah dalam 5 tahun terakhir yaitu dari 2,25% terhadap PDB (2014) menjadi 1,84% terhadap PDB (RAPBN 2019).

Didalam APBN 2019, risiko global meningkat seiring tensi perdagangan antar negara dan likuiditas yang semakin mengetat. Dalam World Economic Outlook Oktober 2018, International Monetary Fund (IMF) mengubah proyeksi pertumbuhan PDB global tahun 2018-2019 yang sebelumnya 3,9% diturunkan menjadi 3,7%. Dimana proyeksi pertumbuhan PDB negara maju diturunkan menjadi 2,4% dan 4,7% untuk proyeksi pertumbuhan PDB negara berkembang tahun 2018. Penurunan proyeksi pertumbuhan ini karena risiko global tidak dapat dihindari akibat kebijakan proteksi AS yaitu kebijakan moneter dan fiskal di AS, tekanan Trade War yang masih berlangsung, proyeksi kenaikan suku bunga The Fed dan perkembangan kerjasama AS dengan NAFTA.

Berikut adalah sekilas isi mengenai APBN 2019

Konferensi pers APBN 2019

Pemerintah pun telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,3%. Yang diikuti dengan nilai tukar Rupiah yang sudah mengalami peningkatan (apresiasi) sebesar 12,6% atau Rp 15.237 per dollar AS selama periode Januri hingga Oktober 2018. Dalam APBN 2019, pemerintah telah menaikkan asumsi nilai tukar Rupiah menjadi Rp 15.000 per dollar AS untuk mengantisipasi kondisi global sehingga APBN menjadi lebih realistis dan kredibel.

Proyeksi kenaikan Rupiah untuk menjaga kredibilitas APBN dan menjaga PDB Indonesia. Seiring dengan kenaikan harga lifting minyak dunia yang meningkatkan harga BBM karena pemerintah harus menyeimbangkan tingkat kebijakan subsidi untuk menjaga keseimbangan APBN . Namun, dengan tingkat konsumsi masyarakat yang masih tumbuh dengan baik yang bersumber dari penciptaan lapangan kerja dan tingkat inflasi yang terjaga, rasio defisit APBN tahun 2019 semakin turun dan keseimbangan primer menuju arah positif. Indikator kesehatan APBN dilihat dari rasio defisit APBN yang turun menjadi 1,84% terhadap PDB dan proyeksi defisit APBN 2019 ini juga di anggap masih aman karena tidak melebihi batas defisit yaitu 3% terhadap PDB.

Strategi pembiayaan utang 2019 dapat dikatakan dalam batas manageable karena rasio defisit APBN yang menurun diikuti dengan pembiayaan utang yang menurun dalam 2 tahun terakhir, bahkan pertumbuhannya negatif

Kebijakan fiskal diarahkan dapat memperkuat pertumbuhan investasi di tengah upaya menjaga stabilitas perekonomian (stability over growth) seperti penerimaan perpajakan yang meningkat untuk menjaga iklim investasi dan peningkatan daya saing akibat adanya reformasi pajak. Sehingga dapat dikatakan postur APBN 2019 masih antisipasif dan fleksibel menghadapi dinamika perekonomian global. Namun, pemerintah tetap harus optimal namun realistis dalam menjaga iklim usaha dan investasi.

Baca juga “Siapa Politikus Sontoloyo yang Dikatakan Jokowi!!!”

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.