Siapa Politikus Sontoloyo Yang DiKatakan Jokowi!!!

Bacabacaku.com- Jakarta. Presiden Joko Widodo berbicara banyak politik yang santun, beretika, akan tetapi lebih banyak yang tidak beretika seperti saat beliau pidato dan menyebutkan ‘politik sontoloyo’. Presiden sudah sangat geram dengan cara politik yangada dinegeri ini demi kekuasaan.

Hal itu disampaikan Jokowi saat acara Peresmian Pembukaan Pertemuan Pimpinan Gereja dan Ketua Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Seluruh Indonesia, di Istana Negara, Jakarta, Rabu (24/10).

“Pertama, ini masalah kebangsaan, 73 tahun merdeka, sejak awal sampai sekarang sebetulnya kita nilainya sudah A, sudah rampung. Negara lain melihat kita itu terkagum-kagum,” kata Jokowi.

“Sebetulnya masalah kebinekaan selesai. Tidak ada yang mempermasalahkan. Para founding father pendiri bangsa ini sudah rampung. Dan nilainya, yang menilai kan dari luar, nilainya A. Kalau di PT itu cum laude,” tambahnya.

Tetapi, lanjut Jokowi, nilai sempurna itu rusak ketika adanya kontestasi politik, baik pilbup, pilwalkot, pilgub, maupun pilpres. Dia menegaskan, pesta demokrasi merupakan urusan yang setiap 5 tahun sekali pasti ada.

“Tetapi ini gara-gara pemilihan bupati, pemilihan walikota, pemilihan gubernur, pemilihan presiden, nah ini dimulai dari sini. Sebetulnya dimulai dari urusan politik yang sebetulnya setiap lima tahun pasti ada. Dipakailah yang namanya cara-cara politik yang tidak beradab, tidak beretika, tidak bertata krama Indonesia,” kata Jokowi.

Cara-cara politik kotor dan adu domba itulah yang dinilai Jokowi dapat memecah belah bangsa hanya untuk mendapatkan kekuasaan. Cara-cara seperti itulah yang membuat dia kesal.

“Cara-cara politik adu domba, cara-cara politik memfitnah, cara-cara politik memecah belah hanya untuk merebut sebuah kursi, sebuah kekuasaan dihalalkan. Nah dimulai dari sini. Sehingga muncul kalau saya sampaikan ya sedikit masalah yang sebetulnya sudah berpuluh tahun tidak ada masalah,” katanya.

Karena kesal terhadap cara politik kotor itulah akhirnya Jokowi mengaku kelepasan mengeluarkan istilah ‘politik sontoloyo’. Dia sendiri menegaskan tidak pernah sebelumnya mengeluarkan istilah itu.

“Inilah kenapa kemarin saya kelepasan, saya sampaikan ‘politikus sontoloyo’ ya itu. Jengkel saya. Saya nggak pernah pakai kata-kata seperti itu. Karena sudah jengkel ya keluar. Saya biasanya ngerem, tapi sudah jengkel ya bagaimana,” katanya.
Ketua DPP Partai Gerindra, Sodik Mudjahid mengkritik keras Jokowi.
“Oh (Gerindra) tidak (tersindir). Saya melihat beliau mungkin agak stres. Stres banyak janji-janji yang belum dipenuhi, stres harus memenangkan sehingga keluar kata-kata seperti itu, kata-kata ‘sontoloyo’. Kemudian sebelumnya juga ada pembohongan. Mungkin beliau dalam keadaan tertekan, dalam keadaan stres,” kata Sodik.

Pernyataan Sodik menjawab pertanyaan apakah Jokowi sedang menyindir lawan politiknya–dalam hal ini Gerindra–terkait politik sontoloyo.

Sodik menduga Jokowi sedang berada di bawah tekanan sehingga berbicara politik sontoloyo. Dia lalu berbicara soal kesantunan.

“Ada juga yang menambahkan, karena dalam keadaan stres, katanya, Jokowi yang terkenal santun sekarang sudah mulai tidak santun lagi. Mungkin karena beliau underpressure,” tutur Sodik.

Timses Jokowi justru menyebut Ketum Gerindra, Prabowo Subianto-lah yang stres.

“Kalau mereka mengatakan Pak Jokowi stres dengan pernyataan itu, justru merekalah yang layak disebut stres dan keblinger. Sontoloyo itu keblinger,” ujar Direktur Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin, Benny Rhamdani.

Menurut Benny, Sodik sedang menyindir sang ketum yang gagal tiga kali dalam pilpres. “Dia lagi menyindir Prabowo, harusnya pecat yang omong itu, Prabowo. Prabowo sebetulnya yang stres, bisa dilihat dari perilaku. Gimana nggak stres, tiga kali pilpres Prabowo selalu nyungsep, kalah,” kata dia.

Seharusnya, kata Benny, kubu Prabowo melakukan cara agar menang di pilpres. Benny menyebut Prabowo dan pendukungnya nggak pernah punya ide dan gagasan.

“Itu ciri-ciri orang stres,” imbuh Benny.

Politikus Hanura itu kemudian menyebut soal politik sontoloyo yang disebut oleh Presiden Jokowi. Benny mengatakan, politikus sontoloyo adalah kelompok oposisi yang kerap menjatuhkan Jokowi melalui berbagai cara.

“Politisi sontoloyo adalah oposisi yang dalam otak mereka apa yang dilakukan pemerintah nggak ada benarnya, semua yang dilakukan pihak berkuasa selalu dianggap salah. Mereka memposisikan diri sebagai sumber kebenaran,” papar senator asal Sulut ini.

Benny menambahkan, di negara mana pun, oposisi selalu menghormati kerja pemerintah sepanjang itu baik meski lawan politik. Para oposisi itu disebutkan bisa menempatkan diri sebagai politisi sekaligus negarawan. “Mereka bukan negarawan, mereka kaum politisi keblinger yang dalam istilah Pak Jokowi sontoloyo.

Mungkin siapa saja pemimpin di satu negara jika bawahannya tidak satu pemikiran terhadap pimpinan akan menimbulkan konflik yang berkepanjangan. Ditambah lagi pihak oposisi selalu menganggap negatif setiap kebijakan yang diambil Presiden, selalu ada kambing hitam dibalik rencana presiden untuk kebaikan negeri ini.

Tidak ada yang bisa membuat satu negara akan berubah secara signifikan apabila para pemerintah satu pemikiran terhadap presiden, belum lagi masalah-masalah Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang di lakukan KPK. Ini adalah bukti bahwa negeri ini dalam kondisi krisis dari sumber daya manusia dimana para pemimpin daerah sudah tidak memiliki malu melakukan korupsi yang melanggar sumpah jabatan saat pelantikan jabatan.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.