IHSG Kembali Mencetak Rekor Pada Penutupan Perdagangan Jumat (26/1)

BACABACAKU.COM, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencetak rekor menjelang akhir bulan ini. Selama awal tahun berjalan hingga penutupan perdagangan kemarin (26/1), IHSG menyentuh level 6.660,62 atau meningkat 5,49% (ytd). Bahkan, selama tahun 2017 IHSG sudah mengalami kenaikan 20,46% (yoy).

Kenaikan IHSG diikuti dengan perekonomian global yang mulai membaik, harga komoditas yang mengalami kenaikan baik itu harga minyak, batubara, maupun komoditas lainnya, juga investor asing yang mulai menggelar aksi beli.

Sektor-sektor yang mendukung kenaikan IHSG selama tahun 2017 adalah sektor perbankan yang naik 40,89%, sektor dasar dan kimia yang naik 28,22%, sektor konsumsi yang naik 23,61%, sektor manufaktur yang juga naik 20,39%, sektor pertambagan yang naik 14,45% dan sektor infrastruktur yang ikut mendongkrak kenaikan IHSG sebesar 12,33%.

Seperti yang kita tahu, saham sektor perbankan menorehkan kinerjanya tahun lalu diikuti dengan penurunan NPL rata-rata sebesar 2,98%. Perbaikan NPL ini didasari oleh proyek infrastruktur, kredit usaha rakyat (KUR) dan kredit usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Menurut catatat OJK, faktor penopang pertumbuhan kredit juga dating dari rendahnya suku bunga kredit, dimana tahun 2017 suku bunga kredit telah turun 77 bps dikarenakan penurunan suku bunga deposito yang turun sebanyak 65 bps.

Juga, proyek infrastruktur yang dikejar pemerintah sepertinya menorehkan hasil ketika rancangan APBN 2018 yang meningkat menjadi Rp Rp 410,4 Triliun membuat harga saham sektor infrastruktur membaik. Sasaran pembangunan terus meningkat untuk mempermudah layanan masyarakat yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh pembayaran proyek oleh pemerintah.

Sektor komoditas sedang membaik selama tahun 2017 hingga sekarang. Kenaikan harga saham komoditas tidak jauh dari harga komoditas dunia yang terus meningkat. Harga batubara sudah mencapai US$ 106,5 per ton (26/1) hal ini meningkatkan kinerja saham emiten batubara untuk meningkatkan produksi yang didukung dengan kelebihan permintaan oleh Cina selama pasokan musim dingin. Selan itu harga minyak dunia yang terus meningkat menjadi US$ 65,18 per barel (26/1). Kenaikan harga komoditas mampu membuat emiten memperlihatkan kinerjanya yang membaik setelah selama tahun 2016 mengalami penurunan karena harganya yang menurun.

Saat ini para investor perlu mewaspadai sentiment global terutama investor yang menunggu rapat The Fed pada akhir Januari ini mengenai rencana kenaikan suku bunga The Fed yang berpotensi naik sebanyak 3 kali dapat menekan saham perbankan. Sentimen negatif bisa menguat jika BI ikut menaikkan suku bunga acuan yang dapat menahan pertumbuhan saham bank. Kenaikan suku bunga bisa memicu kenaikan suku bunga kredit sehingga permintaan kredit berkurang.

Namun, dengan perbaikan kinerja oleh pemerintah yang di tulis dalam rancangan APBN 2018 terlihat Pemerintah sudah mengantisipasi hal tersebut. IHSG yang terus tumbuh, kurs Rupiah yang masih stabil dan pertumbuhan ekonomi yang membaik maka optimisme investor terhadap kinerja IHSG diproyeksi dapat mendongkrak IHSG tahun ini. Pemerintah pun menargetkan pertumbuhan ekonomi tahun 2018 menjadi 5,4% dalam APBN 2018.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.