Bagaimana Kekuatan Rupiah Saat Ini Di Tengah Gejolak Pasar Global ???

BACABACAKU.COM – Nilai tukar mata uang Rupiah mempunyai pengaruh yang besar dalam perekonomian suatu negara. Pola pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap USD bisa membantu pertumbuhan ekonomi dikarenakan transaksi perdagangan nilai tukar menggunakan mata uang negara yang berbeda. Namun, dari awal tahun 2018 hingga per tanggal 31 Maret 2018, nilai tukar mata uang Rupiah terhadap dollar AS sudah terdepresiasi 1,25% (Ytd) ke level Rp 13.736 per dollar AS.

Hal ini dikarenakan menjelang awal tahun, keputusan kebijakan The Fed dalam menaikkan suku bunga AS sangat optimistis diikuti dengan pertumbuhan ekonomi AS yang mulai membaik. Inflasi AS yang sudah mendekati target 2% dapat mengubah optimisme pasar terhadap pergerakan suku bunga. Juga, ancaman perang dagang akibat pemerintah AS yang menaikkan tarif impor baja dan aluminium. Kurs dollar AS pun menunjukkan keperkasaannya menjelang awal tahun meningkat 1,95%.
Namun, apakah dimasa depan mata uang Rupiah dapat bertahan terhadap dollar AS ditengah gejolak pasar global ?

BI berkomitmen akan menjaga nilai tukar mata uang sesuai fundamentalnya. Namun, tantangan BI saat ini adalah mengatasi defisit transaksi berjalan atau curent account deficit (CAD). Per Februari, cadangan devisa hanya US$ 128,06 miliar, turun dari Januari US$ 131,9 miliar. Dengan defisit transaksi berjalan yang tinggi menyebabkan rupiah rentan faktor eksternal. Selain itu, BI juga harus menjaga inflasi sekitar 3,5% plus minus 1% disaat harga pangan cenderung meningkat menjelang bulan puasa dan harga BBM juga naik.
Dari sisi eksternal, tantangan melemahnya Rupiah yaitu dari kekhawatiran terjadinya perang dagang antara

Amerika Serikat dan China yang berpotensi mempengaruhi stabilitas makro ekonomi, walaupun sudah terjadi kesepakatan namun tetap akan mempengaruhi transaksi perdagangan Indonesia. Saat ini, ruang BI untuk melonggarkan kebijakan moneter dengan memangkas suku bunga kian terbatas, ditengah stimulus ekonomi yang masih belum mampu mengangkat Rupiah. Apalagi, target pertumbuhan ekonomi Indonesia sesuai APBN 2018 yaitu 5,4% sepertinya sulit untuk dicapai.

Saat ini inflasi rendah yang masih di bawah 5% dan suku bunga rendah sulit di capai sehingga cepat atau lambat BI harus menaikkan suku bunga untuk menjaga inflasi yang akan meningkat menjelang bulan Ramadan dan ditengah normalisasi kebijakan bank sentral di negara-negara maju.
Dalam pernyataan Direktur Jenderal Anggaran Kementrian Keuangan (Kemenkeu) mengatakan bahwa pemerintah tidak khawatir terhadap pelemahan Rupiah karena anggaran APBN 2018 masih aman dari resiko tekanan pelemahan Rupiah. Walau tidak menguntungkan ekonomi secara umum, pemerintah mengklaim pelemahan Rupiah menguntungkan APBN (Anggaran Pendapatan Belanja dan Negara).

Pemerintah menetapkan defisit APBN 2018 di level 2,19% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dibawah realisasi tahun lalu yaitu 2,49%. Depresiasi Rupiah memberikan efek yang positif ke APBN terutama menambah penerimaan minyak dan gas (migas), pajak penghasilan (PPh) migas, pajak pertambahgan nilai (PPN) serta bea masuk dan bea keluar. Hal ini juga menguntungkan beberapa pengusaha. Namun, hal ini berbanding terbaik terhadap pengeluaran dan belanja pemerintah terutama dalam mata uang asing, pembayaran bunga utang luar negeri, subsidi energi.

Namun, jika dilihat dari 3 tahun lalu nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar tidak stabil. Penyebabnya yang mempengaruhi tidak stabil nya nilai tukar uang yaitu tingkat inflasi pada negara, suku bunga pada negara, neraca perdagangan antar negara, jumlah permintaan barang ekspor, jumlah impor barang, hutang publik negara, kestabilan politik dan ekonomi negara juga capital outflow asing.

Dengan gejolak krisis yang terjadi, kerangka kebijakan moneter BI juga mengalami suatu perubahan yang cukup signifikan dan fundamental akibat serangkaian deregulasi dan perembangan yang terjadi di pasar keuangan. Sehingga, BI memproklamirkan perubahan sistem nilai tukar dari sistem mengambang terkendali (managed floating exchange rate) menjadi sistem free floating exchange rate (mengambang bebas) pada tanggal 14 agustus 1997. Sistem inilah yang membiarkan Rupiah bergerak sesuai dengan kekuatan permintaan dan penawaran yang terjadi di pasar sehingga Rupiah sangat fluktuatif. Namun, tugas pokok BI dalam menjaga kestabilan nilai tukar Rupiah tidak sepenuhnya dapat dikendalikan oleh BI.

Sehingga pertanyaan dengan bagaimana menyelamatkan mata uang Rupiah sekarang ini adalah dengan intervensi dari Bank Indonesia (BI) dan pemerintah. Setelah proses pengangkatan Calon Gubernur Bank Indonesia yaitu Perry Warjiyo berharap mendapatkan wewenang yang lebih besar adalah dengan merevisi Undang-Undang No 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi dimana selama ini dalam UU hanya sebagai penjaga stabilitas inflasi dan Rupiah. Saat ini kebijakan yang tepat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dengan kebijakan makroprudensial dengan mendorong pembiayaan perbankan. Yaitu mengubah aturan Loan to Funding (LFR) menjadi rasio pembiayaan terhadap pendanaan atau financing funding ratio (FFR). Juga, termasuk terkait kontrol terhadap hasil ekspor yang ditukarkan dalam mata uang lokal karena saat ini Indonesia temasuk dalam lalu lintas devisa bebas.

Pemerintah dalam kebijakan fiskalnya termasuk dalam mengeluarkan beberapa kebijakan yang mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi. Salah satunya dengan menjaga daya beli masyarakat, termasuk dalam menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih baik. Inflasi tetap dibawah 5% juga faktor fundamental positif lainnya untuk menjaga kepercayaan investor dalam berinvestasi di Indonesia ditengah fluktuasi global. Jika pemerintah dan BI bisa menjaga kontribusi tersebut, maka Rupiah akan tetap stabil bahkan bisa menguat.

Ditengah harga komoditas yang mulai membaik, hal ini dapat memperbaiki ekspor yang dapat mempengaruhi pendapatan pengusaha setelah beberapa tahun terakhir kurang sesuai ekspektasi dan pendapatan negara untuk meningkatan neraca perdagangan. Juga, menjelang pemilu dan Sea Games tahun ini yang diperkirakan akan menaikkan daya beli masyarakat. Jadi kesimpulannya, Rupiah masih bisa stabil dalam beberapa waktu kedepan dan masih dalam batas wajar dalam APBN 2018.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.